Memaknai hidup bersama lagu Membasuh-Hindia

Yuk baca blognya sambil dengerin lagu Membasuh-Hindia!



Lagu Membasuh karangan Hindia ada di album debutnya yang berjudul Menari dengan Bayangan yang
dirilis pada tahun 2019. Dibawah ini adalah lirik dan makna dariku terhadap setiap bait lagu ini.

Selama ini
Kunanti
Yang kuberikan datang berbalik
Tak kunjung pulang
Apa pun yang terbilang
Di daftar pamrihku seorang

-Pada bait pertama ini seperti menjelaskan bahwa sesosok jiwa yang selama ini menanti balasan atas perbuatan(baik)nya, namun tak kunjung pulang(datang kembali/berbalik padanya(balasan atas perbuatannya)).

Telah kusadar hidup bukanlah
Perihal mengambil yang kau tebar
Sedikit air yang kupunya
Milikmu juga bersama
-Pada bait kedua(reff) ini menjelaskan atas kesadaran sesosok jiwa perihal “hidup bukanlah perihal mengambil yang kau tebar” yaitu, dalam hidup berbuatlah baik kepada orang lain dan jangan mengharap apa yang telah kau tebar akan kembali padamu(kebaikan yang kau beri). Dan bahwasanya “sedikit air yang kupunya, milikmu juga, bersama” yaitu, rezeki yang kita miliki hari ini, sejatinya ada hak orang lain juga disana.
Bisakah kita tetap memberi
Walau tak suci?
Bisakah terus mengobati
Walau membiru?
-Pada bait ketiga ini menjelaskan atas tindakan yang diambil sesosok jiwa yaitu, “Bisakah kita tetap memberi, walau tak suci” yaitu, bisakah kita tetap memberi se-sedikit apapun yang kita punya, seremeh apapun hal itu, “walau tak suci” disini berarti, tidak sebegitu mewah, berharga, mahal, dll. Dan “Bisakah terus mengobati, walau membiru” yaitu, bisakah kita terus mengobati, terus memberi energi positif pada orang lain, walaupun keadaan kita “membiru”—lebam pada kulit yang berarti permasalahan hidup kita.
Cukup besar 'tuk mengampuni
'Tuk mengasihi
Tanpa memperhitungkan masa yang lalu
Walau kering
Bisakah kita tetap membasuh?
-Pada bait keempat ini menjelaskan bahwa sesosok jiwa yang berhenti mengharap dan memerhitungkan sesuatu yang lalu, dan membalasnya dengan terus mengampuni dan mengasihi—memaafkan dan membalas keburukan dengan kebaikan.  “Cukup besar tuk mengampuni, tuk mengasihi, tanpa memperhitungkan masa yang lalu”.
Kita bergerak dan bersuara
Berjalan jauh tumbuh bersama
Sempatkan pulang ke beranda
'Tuk mencatat hidup dan harganya
-Pada bait kelima ini adalah hal krusial semua sosok jiwa di dunia ini, karena sejatinya kita didunia ini bergerak dan bersuara, berjalan jauh, dan tumbuh bersama. Maka, sempatkanlah pulang ke beranda(tempat kau dicipta ataupun dilahirkan) tuk mencatat hidup dan harganya—apa saja yang telah jiwamu lewati dan apa pelajaran/harga dari hidup yang telah kau jalani.
Mengering sumurku
Terisi kembali
Kutemukan
Makna hidupku disini
-Pada bait keenam ini adalah akhir dari perjalan jiwa kita. Sumur kita yang kering, terisi kembali.  Yaitu, pasti semasa hidup kita pernah merasa “apa sih gunanya aku hidup”—kita merasa kekeringan atas sumur(jiwa) kita, namun setelah didunia ini kita bergerak dan bersuara, berjalan jauh, dan tumbuh bersama maka sejatinya “Kutemukan, Makna hidupku disini”. 
Temukanlah makna hidupmu. Sejatinya kau pasti akan menyimpulkannya sendiri.
Melalui lagu ini sendiri, aku mendapat separuh dari makna hidupku, yaitu Berhentilah mengharap balasan akan tebaran yang kau beri, tetaplah menebar segala kebaikan walau itu tak suci, teruslah mengobati orang lain walau diri sendiri sedang membiru, dan berhentilah mengingat masa lalu yang kelam dan menghantui diri sendiri
Terimalah atas segala kekuranganmu dimasa lalu, hiduplah dengan standarmu, terimalah dirimu apa adanya, jangan jalani hidup atas kendali orang lain.
-06/12/25. 22.23 WITA.


Posting Komentar

Nabila Amalia IX D Blog. Designed by Oddthemes