Slider

Top Categories

Travel

Travel
travel

Adventure

Life Reflections

Movie Review

Book Reviews

Sabtu, 06 Desember 2025

Yuk baca blognya sambil dengerin lagu Membasuh-Hindia!



Lagu Membasuh karangan Hindia ada di album debutnya yang berjudul Menari dengan Bayangan yang
dirilis pada tahun 2019. Dibawah ini adalah lirik dan makna dariku terhadap setiap bait lagu ini.

Selama ini
Kunanti
Yang kuberikan datang berbalik
Tak kunjung pulang
Apa pun yang terbilang
Di daftar pamrihku seorang

-Pada bait pertama ini seperti menjelaskan bahwa sesosok jiwa yang selama ini menanti balasan atas perbuatan(baik)nya, namun tak kunjung pulang(datang kembali/berbalik padanya(balasan atas perbuatannya)).

Telah kusadar hidup bukanlah
Perihal mengambil yang kau tebar
Sedikit air yang kupunya
Milikmu juga bersama
-Pada bait kedua(reff) ini menjelaskan atas kesadaran sesosok jiwa perihal “hidup bukanlah perihal mengambil yang kau tebar” yaitu, dalam hidup berbuatlah baik kepada orang lain dan jangan mengharap apa yang telah kau tebar akan kembali padamu(kebaikan yang kau beri). Dan bahwasanya “sedikit air yang kupunya, milikmu juga, bersama” yaitu, rezeki yang kita miliki hari ini, sejatinya ada hak orang lain juga disana.
Bisakah kita tetap memberi
Walau tak suci?
Bisakah terus mengobati
Walau membiru?
-Pada bait ketiga ini menjelaskan atas tindakan yang diambil sesosok jiwa yaitu, “Bisakah kita tetap memberi, walau tak suci” yaitu, bisakah kita tetap memberi se-sedikit apapun yang kita punya, seremeh apapun hal itu, “walau tak suci” disini berarti, tidak sebegitu mewah, berharga, mahal, dll. Dan “Bisakah terus mengobati, walau membiru” yaitu, bisakah kita terus mengobati, terus memberi energi positif pada orang lain, walaupun keadaan kita “membiru”—lebam pada kulit yang berarti permasalahan hidup kita.
Cukup besar 'tuk mengampuni
'Tuk mengasihi
Tanpa memperhitungkan masa yang lalu
Walau kering
Bisakah kita tetap membasuh?
-Pada bait keempat ini menjelaskan bahwa sesosok jiwa yang berhenti mengharap dan memerhitungkan sesuatu yang lalu, dan membalasnya dengan terus mengampuni dan mengasihi—memaafkan dan membalas keburukan dengan kebaikan.  “Cukup besar tuk mengampuni, tuk mengasihi, tanpa memperhitungkan masa yang lalu”.
Kita bergerak dan bersuara
Berjalan jauh tumbuh bersama
Sempatkan pulang ke beranda
'Tuk mencatat hidup dan harganya
-Pada bait kelima ini adalah hal krusial semua sosok jiwa di dunia ini, karena sejatinya kita didunia ini bergerak dan bersuara, berjalan jauh, dan tumbuh bersama. Maka, sempatkanlah pulang ke beranda(tempat kau dicipta ataupun dilahirkan) tuk mencatat hidup dan harganya—apa saja yang telah jiwamu lewati dan apa pelajaran/harga dari hidup yang telah kau jalani.
Mengering sumurku
Terisi kembali
Kutemukan
Makna hidupku disini
-Pada bait keenam ini adalah akhir dari perjalan jiwa kita. Sumur kita yang kering, terisi kembali.  Yaitu, pasti semasa hidup kita pernah merasa “apa sih gunanya aku hidup”—kita merasa kekeringan atas sumur(jiwa) kita, namun setelah didunia ini kita bergerak dan bersuara, berjalan jauh, dan tumbuh bersama maka sejatinya “Kutemukan, Makna hidupku disini”. 
Temukanlah makna hidupmu. Sejatinya kau pasti akan menyimpulkannya sendiri.
Melalui lagu ini sendiri, aku mendapat separuh dari makna hidupku, yaitu Berhentilah mengharap balasan akan tebaran yang kau beri, tetaplah menebar segala kebaikan walau itu tak suci, teruslah mengobati orang lain walau diri sendiri sedang membiru, dan berhentilah mengingat masa lalu yang kelam dan menghantui diri sendiri
Terimalah atas segala kekuranganmu dimasa lalu, hiduplah dengan standarmu, terimalah dirimu apa adanya, jangan jalani hidup atas kendali orang lain.
-06/12/25. 22.23 WITA.


Sabtu, 08 November 2025

(Sedikit mengandung spoiler!)

Yuk baca blognya sambil dengerin lagu Membasuh-Hindia!
klik: Dengarkan di browser/Listen in browser



“Kita semua adalah pengembara di dunia ini. Dari hari ke hari. Dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu kejadian ke kejadian lain. Terus mengembara. Dan kita pasti akan menggenapkan janji yang satu ini: mati.”

Tulisan ini mengulas novel Janji karya Tere Liye—kisah pengembaraan tiga sahabat dalam mencari seseorang bernama Bahar, yang membawa banyak pelajaran tentang hidup, kesalahan, dan pengampunan. Dari kisah itu, aku belajar untuk lebih memaknai diri dan melihat hidup dari sisi yang lebih bijak.

Sinopsis Singkat

Novel Janji karya Tere Liye ini mengisahkan tentang pengembaraan tiga sekawan: Baso, Hasan, dan Kahar, yang mendapat tugas dari guru mereka, Buya, untuk mencari seseorang bernama Bahar. Bahar adalah mantan murid di sekolah agama mereka—dulu dikenal sebagai pembuat onar. Bahar meninggalkan sekolah karena sebuah mala petaka yang terjadi akibat kesalahan dirinya sendiri. Dikarenakan penglihatan Buya pada suatu mimpinya tentang Bahar. Maka, dia berusaha untuk mencari Bahar selama bertahun-tahun. Yang pada ujungnya tidak mendapat apapun petunjuk tentang Bahar, maka dia menyerahkan tugas tersebut kepada tiga sekawan.

Perjalanan mereka ternyata tidak mudah. Bahar bukan sekadar mantan murid biasa. Ia adalah sosok dengan masa lalu kelam: pemabuk, tukang berkelahi, dan seseorang yang pernah membakar sekolah karena perbuatannya sendiri. Tapi di balik semua itu, tersimpan perjalanan batin yang panjang tentang penyesalan, pengampunan, penepatan janji, dan pencarian makna hidup seorang Bahar Safar.

Review Pribadiku

Dari awal, aku langsung merasa alur novel ini sangat menarik dan penuh teka-teki. Setiap bab membuatku penasaran: siapa Bahar sebenarnya dan bagaimana masa lalunya bisa sekelam itu?

Yang paling aku sukai adalah cara Tere Liye menyusun cerita seperti potongan puzzle. POV (sudut pandang) yang digunakan bukan dari Bahar langsung, melainkan dari dialog orang-orang yang ditemui oleh Baso, Hasan, dan Kahar selama perjalanan mereka. Orang-orang yang mereka temui inilah semacam puzzle bagi novel ini.

Baca novel ini rasanya seperti ikut menyusun kepingan kisah yang berserakan, hingga akhirnya di akhir cerita semua puzzle itu menyatu dengan sempurna. Ending-nya bikin aku kagum—karena Bahar yang awalnya kukira cuma “berandalan tak berguna”, ternyata justru menjadi sosok yang sangat mulia dan berdampak besar bagi orang-orang di sekitarnya.

Selain alurnya yang menarik, gaya bahasa Tere Liye juga khas banget. Walau memakai diksi yang agak tinggi, setiap kalimatnya terasa indah dan punya makna dalam. Membaca buku ini membuatku ikut tenggelam dalam suasana, dan banyak hal yang bisa kupetik sebagai pelajaran hidup.

Kalimat-Kalimat yang Paling Berkesan Bagiku

“Kita selalu bisa memilih, bersabar atau marah. Bersyukur atau ingkar. Bahkan saat situasi itu memang menyakitkan, boleh jadi tetap ada kebaikan di sana.”

Kalimat ini membuatku sadar bahwa, selama ini hanya kita yang dapat mengontrol emosi kita sendiri dan tindakan kita terhadap satu situasi, apakah kita marah dan ingkar terhadap qada dan qadarnya tuhan atau kita bersabar dan bersyukur atasnya dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa pasti ada kebaikan atasnya.

"Tidak semua di dunia ini dinilai menurut versimu"
“Kita selalu bisa memilih dari sisi mana melihat situasinya, maka aku memilih melihat sisi baiknya saja.”

Dua kalimat ini membuat saya akhirnya memulai mencoba memahami dunia dari dua versi. Bahwa sudut pandang itu bukan hanya sudut pandang kita sendiri dan sudut pandang itu bukan hanya sudut pandang negatif, tapi juga ada sudut pandang positif. contohnya saat saya melihat para pekerja cafe/mini market kurang ramah terhadap pembeli, saya jadi lebih berbaik sangka terhadap perlakuan mereka, "mungkin saja hari ini ada hal yang kurang menyenangkan terjadi atas mereka, sehingga mereka kurang bersahabat", alih-alih saya berpikir bahwa, "kinerja karyawan itu buruk atau tidak profesional", saya lebih memilih untuk membuat sudut pandang baru yang lebih positif atasnya.

“Tuhan saja Maha Pemaaf, Bahar. Kenapa kau melangkahi Tuhan? Menghukum diri sendiri.”

Kalimat ini sangat menamparku. Dalam cerita, Bahar merasa sangat bersalah karena masa lalunya yang kelam—membunuh temannya, membakar sekolah, menjadi pemabuk, lalu akhirnya masuk penjara. Ia terus menghukum dirinya sendiri karena tidak bisa memaafkan kesalahan masa lalunya.

Tapi lewat kalimat ini, aku belajar sesuatu yang sangat penting: sering kali kita juga melakukan hal yang sama—merasa bersalah atas kesalahan kecil, terus menyalahkan diri sendiri, dan lupa bahwa Tuhan Maha PengampunPadahal, saat kita menolak memaafkan diri sendiri, kita seolah-olah sedang “melangkahi” Tuhan.

Novel ini membuatku berpikir bahwa memaafkan diri sendiri adalah bagian dari menghargai pengampunan Tuhan. Tidak ada manusia yang sempurna, dan setiap orang berhak untuk memperbaiki diri.


Kesimpulan

Novel Janji bukan sekadar kisah pengembaraan mencari seseorang, tapi juga perjalanan menemukan makna hidup, penyesalan, dan pengampunan. Cerita ini mengajarkan bahwa setiap manusia punya kesempatan untuk berubah dan bahwa Tuhan selalu membuka pintu maaf, bahkan untuk orang yang merasa paling berdosa sekalipun. 

Membaca Janji membuatku berpikir ulang tentang arti “pengembaraan” dalam hidupku sendiri—bahwa setiap langkah, seberat apapun, adalah bagian dari janji yang akan kita genapkan pada akhirnya.


Mari berkenalan atau sekedar mengobrol dan memaknai novel bersamaku di sini:

Instagram : @nabb.aml
Youtube : @abil.kece_gacor

#ReviewNovel #TereLiye #Janji #LiterasiRemaja #BlogInformatika

Nabila Amalia IX D Blog. Designed by Oddthemes